Perhelatan para blogger yang telah lama dinanti-nanti kini telah dimulai. Tepat pukul 10.00 WIB pagi tadi acara Pesta Blogger 2009 dibuka secara resmi oleh Menteri Komunikasi dan Informasi (MENKOMINFO) yang baru saja dilantik, Bpk. Tifatul Sembiring. Beliau mengatakan sangat senang dengan perkembangan para blogger di Indonesia. Ini juga mendukung misi Departemennya untuk menjadikan Indonesia yang Informatif. Beliau berharap para blogger bisa memanfaatkan kebebasan yang ada saat ini secara bertanggung jawab. Beliau menyadari apa yang ditulis atau ditampilkan di blog masing-masing akan menjadi rujukan para pencari informasi di internet.
Hingaa saat ini (pukul 11.45 WIB) acara yang berlangsung adalah talkshow dengan para komnitas blogger di kota-kota besar di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah Tugu Pahlawan.Com dari Surabaya, Komunitas Angin mamiri dari Makassa, Komunitas Blogger Bogor, dan Komunitas Blogger Pekanbaru, Riau.
Acara yang diselengarakan di gedung SMESCO Indonesia di bilangan kalan Gatot Subroto ini rencananya akan berlangsung hingga pukul 17.00 WIB sore nanti. Bagi kamu yang masih ingin dating, langsung saja meluncur di TKP untuk melakukan registrasi dengan biaya 50.000 rupiah yang akan diganti dengan tiket masuk dan goody bag yang berisi: pin, notebook, tas Pesta Blogger 2009, Kaos Pesta Blogger 2009, dsb. Bagi kamu yang belum mendaftar sebelumnya, bisa langsung melakukan reistrasi di tempat acara.
Read More..
Saturday, October 24, 2009
Monday, June 22, 2009
Koreksi Komentar Kita
Banyak kebiasaan kita yang salah ketika kita mengomentari sesuatu atau mengapresiasi sesuatu atas hal-hal yang dilakukan oleh orang lain. Tentu saja ini akan memberikan efek negatif bagi si penerima pesan kita. Untuk itulah mari kita lebih berhati hati dalam berkomentar, apalagi kepada anak-anak yang masih terus berkembang kepribadiannya. Setidaknya ini lah gambaran yang diberikan oleh psikolog Carol Dweck, PhD dari Stanford University di rd.com.
Hasil penelitiannya selama kurang lebih 40 tahun menyatakan bahwa setidaknya dapat dibedakan dua mindset yang berkembang di tengah masyarakat. Yakni yang berkeyakinan bahwa talenta itu diturunkan sejak lahir. Menjadi artis, presiden, atlet terbaik, atau penulis adalah bawaan dari lahir. Orang-orang yang meyakini ini sering kali percaya bahwa kesuksesan itu dapat di raih tanpa usaha yang keras. Jika tiba-tiba kegagalan terjadi dalam hidupnya maka penyesalan, menyalahkan diri sendiri, berbohong, dan menghindari tantangan serta resiko di depannya akan dilakukan demi menutupi kekurangannya.
Sebaliknya, orang dengan mindset bahwa bakat/kemampuan tidak pernah diberikan dengan cuma-cuma tanpa usaha yang keras akan lebih cenderung berkeyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Mindsetnya akan lebih melihat bahwa kegagalan adalah salah satu peluang untuk meningkatkan diri daripada hanya disikapi sebagai kelemahan diri. Oleh karena itu dia akan terus berusaha, mencoba, dan terus mencoba. Dia lebih percaya pada proses.
Dua mindset itupun terbentuk pada benak manusia karena adanya lingkungan yang mendukung untuk menjadikannya seperti itu. Oleh karena itu, sebaiknya kita ikut menciptakan lingkungan yang bisa menjadikan orang-orang yang kita sayangi disekitar kita memiliki mindset yang kedua. Dengan cara apa? Mari kita mulai dengan memberikan komentar yang baik dan benar.
Sering kali kita tidak sadar ketika kita memberikan komentar pada anak kita, adik kita, keponakan kita dengan, "Kamu adalah anak yang cerdas" ketika dia berhasil melakukan sesuatu. Jelas labeling ini akan membentuk mindset anak ini bahwa dia memang cerdas dan tidak perlu berusaha lagi. Dweck menyarankan lebih baik kita menggantinya dengan "Cara yang kamu lakukan tadi tepat sekali sehingga kamu berhasil mendapatkannya". Penekanan pentingnya proseslah yang membedakan dua kalimat tadi. Namun kalimat pertamalah yang seringkali dimunculkan oleh orang tua atau pendidik kita ketika memuji seorang anak.
Dalam olahraga misalnya, daripada kita bertanya "Apakah kamu menag?" lebih baik kita menggantinya dengan "Apakah kamu sudah melakukan yang terbaik?" Sekali lagi penekanan proses itu lebih penting untuk mengajarkan kerja keras daripada hanya menggunakan pendekatan tujuan.
Read More..
Hasil penelitiannya selama kurang lebih 40 tahun menyatakan bahwa setidaknya dapat dibedakan dua mindset yang berkembang di tengah masyarakat. Yakni yang berkeyakinan bahwa talenta itu diturunkan sejak lahir. Menjadi artis, presiden, atlet terbaik, atau penulis adalah bawaan dari lahir. Orang-orang yang meyakini ini sering kali percaya bahwa kesuksesan itu dapat di raih tanpa usaha yang keras. Jika tiba-tiba kegagalan terjadi dalam hidupnya maka penyesalan, menyalahkan diri sendiri, berbohong, dan menghindari tantangan serta resiko di depannya akan dilakukan demi menutupi kekurangannya.
Sebaliknya, orang dengan mindset bahwa bakat/kemampuan tidak pernah diberikan dengan cuma-cuma tanpa usaha yang keras akan lebih cenderung berkeyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Mindsetnya akan lebih melihat bahwa kegagalan adalah salah satu peluang untuk meningkatkan diri daripada hanya disikapi sebagai kelemahan diri. Oleh karena itu dia akan terus berusaha, mencoba, dan terus mencoba. Dia lebih percaya pada proses.
Dua mindset itupun terbentuk pada benak manusia karena adanya lingkungan yang mendukung untuk menjadikannya seperti itu. Oleh karena itu, sebaiknya kita ikut menciptakan lingkungan yang bisa menjadikan orang-orang yang kita sayangi disekitar kita memiliki mindset yang kedua. Dengan cara apa? Mari kita mulai dengan memberikan komentar yang baik dan benar.
Sering kali kita tidak sadar ketika kita memberikan komentar pada anak kita, adik kita, keponakan kita dengan, "Kamu adalah anak yang cerdas" ketika dia berhasil melakukan sesuatu. Jelas labeling ini akan membentuk mindset anak ini bahwa dia memang cerdas dan tidak perlu berusaha lagi. Dweck menyarankan lebih baik kita menggantinya dengan "Cara yang kamu lakukan tadi tepat sekali sehingga kamu berhasil mendapatkannya". Penekanan pentingnya proseslah yang membedakan dua kalimat tadi. Namun kalimat pertamalah yang seringkali dimunculkan oleh orang tua atau pendidik kita ketika memuji seorang anak.
Dalam olahraga misalnya, daripada kita bertanya "Apakah kamu menag?" lebih baik kita menggantinya dengan "Apakah kamu sudah melakukan yang terbaik?" Sekali lagi penekanan proses itu lebih penting untuk mengajarkan kerja keras daripada hanya menggunakan pendekatan tujuan.
Read More..
Poster "Menggelitik" Kampanye Pilpres 2009
Kitika saya pulang Ujian Tengah Semester di kampus dan akan sampai ke kos, tiba-tiba mata saya menyapu secara sekilas ada penampakan poster kampanye yang sepertinya menarik. langsung saja langkah kaki saya terhenti untuk kembali dan lebih memperhatikan detail poster tersebut. dan ternyata benar. Ini dia!


Karena langganan surat kabar KOMPAS saya hari ini juga menampilkan headline yang sama. Baiknya saya tampilkan juga yang penting-penting. Sekaligus postingan ini bukan ditujukan untuk siapa mendukung siapa dan siapa menjatuhkan siapa. Murni hanya untuk menampilkan apa yang terjadi di lapangan.
Kampanya Negatif pada Capres-Cawapres (Sumber: Kompas, 22 Juni 2009)
MEGA-PRABOWO
1. Menjual Aset Negara (Megawati)
2. Berlimpah harta, tetapi mengusung konsep ekonomi kerakyatan (Prabowo)
3. Kewarganegaraan ganda (Prabowo)
4. Isu Pelanggaran HAM (Prabowo)
SBY-BOEDIONO
1. Penganut konsep neoliberalisme (Boediono)
2. Isu Jawa dan Luar Jawa (SBY-Boediono)
3. Tebang pilih kasus korupsi (SBY)
4. Peragu dan sulit mengambil keputusan (SBY)
5. Utang luar negeri yang terus meningkat (SBY)
6. Istri-istri tidak berjilbab (SBY-Boediono)
7. Menjiplak jingle iklan Mie Instan untuk kampanye (SBY)
8. Arogansi Pilpres satu putaran (SBY-Boediono)
JK-WIRANTO
1. Bisnis keluarga pejabat (JK)
2. Terkait pelanggaran HAM masa lalu (Wiranto)
3. Pengusaha akan KKN jika berkuasa (JK)
4. Bahaya Kapitalis rambut hitam (JK)
5. Harus tepat tidak boleh ngawur, tapi rugi (JK)
(foto diambil Senin, 22 Juni 2009 sekitar pukul 10.30 WIB di perkampungan di Kota Tangerang Selatan)
Read More..


Karena langganan surat kabar KOMPAS saya hari ini juga menampilkan headline yang sama. Baiknya saya tampilkan juga yang penting-penting. Sekaligus postingan ini bukan ditujukan untuk siapa mendukung siapa dan siapa menjatuhkan siapa. Murni hanya untuk menampilkan apa yang terjadi di lapangan.
Kampanya Negatif pada Capres-Cawapres (Sumber: Kompas, 22 Juni 2009)
MEGA-PRABOWO
1. Menjual Aset Negara (Megawati)
2. Berlimpah harta, tetapi mengusung konsep ekonomi kerakyatan (Prabowo)
3. Kewarganegaraan ganda (Prabowo)
4. Isu Pelanggaran HAM (Prabowo)
SBY-BOEDIONO
1. Penganut konsep neoliberalisme (Boediono)
2. Isu Jawa dan Luar Jawa (SBY-Boediono)
3. Tebang pilih kasus korupsi (SBY)
4. Peragu dan sulit mengambil keputusan (SBY)
5. Utang luar negeri yang terus meningkat (SBY)
6. Istri-istri tidak berjilbab (SBY-Boediono)
7. Menjiplak jingle iklan Mie Instan untuk kampanye (SBY)
8. Arogansi Pilpres satu putaran (SBY-Boediono)
JK-WIRANTO
1. Bisnis keluarga pejabat (JK)
2. Terkait pelanggaran HAM masa lalu (Wiranto)
3. Pengusaha akan KKN jika berkuasa (JK)
4. Bahaya Kapitalis rambut hitam (JK)
5. Harus tepat tidak boleh ngawur, tapi rugi (JK)
(foto diambil Senin, 22 Juni 2009 sekitar pukul 10.30 WIB di perkampungan di Kota Tangerang Selatan)
Read More..
Labels:
politik,
yang terjadi hari ini
Wednesday, April 29, 2009
Caleg Stess: Psikolog?

Pesta demokrasi akhirnya usai juga, meski hasil akhir apa yang muncul belum seratus persen dapat di lihat namun keterbatasan itu sudah bisa di bantu dengan hasil hitung cepat (Quick Count) dan hasil hitung sementara KPU (Real Count). Dari sana kita yang berkepentingan, pengurus parpol, caleg, atau masyarakat yang merasa tertarik dengan hasil pemilu, bisa mereka-reka kemana nasib kita nantinya. Pun juga para caleg yang bertarung.
Tepat sehari setelah hari pencontrengan (bukan pencoblosan lagi) selesai, langsung muncul berita hampir di mana-mana tentang adanya caleg yang stress akibat sedikitnya suara yang mereka peroleh dan tidak sebanding dengan harapan besarnya dan financial besar yang telah dikeluarkan. Efeknya pun bermacam-macam, ada yang mengambil kembali uang berupa tabungan yang dibagikan sebelum hari pemilihan oleh Caleg di Bogor, pengambilan kembali material pembangunan masjid yang di sumbangkan dengan syarat harus memilih dirinya di Tulungagung, pengambilan kembali peralatan musik dan perabot rumah tangga yang sebelumnya di sumbangkan di Palembang dan Aceh. Pembongkaran jalan aspal dan pemblokiran jalan dengan bebatuan karena kekecewaan para caleg dan simpatisannya akibat mendapatkan suara kecil. Hingga ada (banyak) caleg yang harus di kirim ke tempat-tempat rehabilitasi mental dan psikis karena stress berat kalah dalam pemilihan legislatif.
Menurut pengamatan saya dari berbagai macam media pemberitaan yang mengabarkan caleg stress ini hampir tidak ada anggota keluarganya (yang masih sehat) yang mengirimkan si stress ke seorang psikolog. Malahan banyak di antara mereka yang lebih mempercayakan mengirim ke Pesantren atau tempat sejenisnnya yang di asuh oleh ustadz, kyai, paranormal atau sejenisnya. Jelas tidak ada seorang psikolog lulusan jurusan psikologi di sana. Otomatis bukan terapi ala Freud, Bandura, atau Roger yang di terapkan, melainkan bacaan-bacaan ayat Al-Quran, mandi kembang, berjemur, rukyah atau berendam. Pertanyaannya adalah sejauh mana psikolog kita di percaya di rumahnya sendiri?
Sosio kultur masyarakat kita memang masih belum akrab dengan metode asosiasi bebas, katarsis, atau apalah namanya dalam rangka penyembuhan orang stress atau gila. Mereka lebih percaya pada (misal) meminumkan air tujuh sumber, mandi kembang tujuh rupa, membacakan jampi-jampi, hingga metode rukyah. Apalagi jika kita lihat pada masyarakat di pedesaan yang jauh dari peradaban pendidikan tinggi, jelas Ponari akan lebih di percaya dari pada Psikolog, Paranormal akan lebih di percaya daripada Psikodiagnostik. Dan berita buruknya bagi para psikolog, masyarakat yang seperti itu adalah masyarakat mayoritas di negeri kita ini. Jelas ini sindiran tidak langsung bagi kita akan’diterapkan’ di belahan bumi Indonesia bagian mana ke-psikolog-an kita? Bakti seperti apa yang akan kita lakukan selain menunjukkan pada mereka “Saya kenal orang pinter di daerah saya, mari saya antar.”
Jika ini realitasnya, jelas para calon psikolog kita harus tidak terlena dengan keilmuan yang cenderung positifis dan tidak membumi di Indonesia ini. Harus mulai ada pengkajian local genius yang coba di kombinasikan dengan apa yang biasa kita pelajari. Maka tidak akan salah kita memberikan diagnosis yang menurut mereka jelas lebih tidak rasional daripada anggapan tidak rasional kita pada Ponari atau metode Rukyah. Mau tidak mau ini harus di akui!
Saya sebagai salah satu bagian masyarakat Indonesia yang mayoritas tadi sungguh menyayangkan jika pengkaji psikologi kita hanya berkutat pada hal-hal yang rasional dan memaksa menutup mata terhadap fenomena mendi air tujuh sumber tadi. Mereka lupa mengkaji bahwa masyarakat kita jelas punya cara sendiri untuk mencegah dan mengatasi mereka yang stress akibat harapannya tidak terwujud.
Saya mencurigai, fenomena stress yang dialami banyak caleg kita itu sebenarnya adalah hasil dari pragmatisme berpikir ala positifis: jika saya menghabiskan dana sekian banyak maka saya boleh bersiap-siap jadi legislative beneran tanpa mempertimbangkan bahwa ada campur tangan tak terlihat yang berperan. Jelas ini pola pikir 1 + 1 = 2 ala positifis yang menjadi pradigma berpikit banyak para pengkaji ilmu barat salah satunya psikolog. Bukan 1 + 1 = bisa 2, bisa 3, atau terserah Tuhan menginginkan apa, yang menjadi paradigma berpikit metafisis atau ekstremnya paranormal (dalam artian luas). Akhirnya tentu sangat lucu jika masalah yang diakibatkan pikiran positifis harus di serahkan pada yang berparadigma metafisis. Apa yang berparadigma positifis tidak mampu? Itu anda yang menjawab.
Tangerang, 21 April 2009
Tulisan ini juga bisa di lihat di http://www.psydojoe.net
Web kumunitas mahasiswa Psikilogi Universitas Airlangga Angkatan 2007
Read More..
Sunday, April 26, 2009
Perubahan itu...

Kemarin, atau tepatnya 25 April lalu saya genap berusia 20 tahun. Saya jadi merenung, apa makna perubahan usia yang akan berpengaruh banyak pada kehidupan saya? Tapi untuk sementara ini saya pending dulu untuk menjawabnya.
Pertama, mari kita teliti terlebih dahulu dari mana 20 tahun itu berasal. Saya yakin 20 tahun itu berasal dari bunyi tangisan pertama saya pasca keluar dari orok ibu saya. Itulah hitungan maju menuju angka yang lebih banyak - menurut satuan jam, hari, minggu, bulan, dan bahkan tahun - di mulai. Dan akhirnya sampailah pada angka 20 tahun saat ini. Perjalanannya sungguh sangat lama sekali, tapi saya yang mengalaminya sungguh, jujur, tidak begitu terasa. Bisa dikatakan inilah mungkin salah satu bukti teori relativitas Einstein. 20 tahun itu mengalir begitu saja.
Jika saya lihat dari perspektif lain, tangisan pertama saya tadi sangat mungkin justru berarti mulainya hitungan countdown bagi diri saya pribadi. Countdown yang mulainya dari angka berapa menuju nol, saya tidak tahu. Yang pasti saat ini telah berkurang 20 tahun lamanya. Jika saya mereka-reka berapa angka countdown saya mulai berdasarkan tolok ukur usia manusia yang paling layak di contoh, berarti jatah saya di dunia tinggal 43 tahun lagi. Sepertiga kurang satu tahun waktu itu sudah saya lalui. Itupun dengan asumsi bahwa selisih hitungan kalender Syamsiah dan Qomariah diabaikan.
Tepat 100 hari sebelum memperingati tangisan pertama yang sebenarnya tidak terlalu penting itu, saya sudah mempersiapkan perubahan yang revolusioner. Dengan harapan saya akan benar-benar bisa menjadi kupu-kupu setelah melalui periode kepompong selama 100 hari. Saya putuskan, saya akan menjadi kupu-kupu pada tanggal 25 April. 25 April adalah pintu gerbang perubahan itu. Di benak saya target itu pasti akan sangat bisa dicapai. Bayangkan, periode persiapannya saja sama dengan periode awal presiden biasanya melakukan langkah pertama pada awal masa kepemimpinannya, 100 hari! Saya pun mulai merancang target-target yang harus saya capai: harus menyelesaikan ini, harus bisa itu, harus biasa ini, harus hafal itu, harus fasih ini dan banyak lagi daftar yang saya buat dan setelah selesai saya dengan mantap memberinya judul ROADMAP TO GREAT CHANGE! Palnning selesai!
Saya pun akhirnya berusaha dan terus mencoba menyelesaikan ‘tantangan-tantangan’ itu. Satu per satu bisa di raih, satu per satu pula berguguran. Setelah masa seratus hari itu berakhir, masa evaluasi pun di mulai, dan hasilnya begini. Ternyata perubahan pada diri saya itu benar-benar terjadi. Pun ternyata perubahan pada diri saya itu benar-benar tidak terjadi. Yang berubah adalah yang mana target bisa di raih. Pun yang tidak berubah adalah yang mana target tadi berguguran. Persis seperti proses yang di lalui. Jadi saya bulatkan tekad untuk mengatakan “Perubahan Radikal pada 25 April itu tidak terjadi seperti yang saya rencanakan!”
Terus terang strategi perubahan yang saya terapkan kali ini berbeda dari sebelumnya. Biasanya saya hanya akan menentukan kapan pintu gerbang perubahan itu. Suatu tanggal atau momen tertentu. Misalnya begini, “Setelah Ramadhan ini, pasti saya akan bisa berubah” atau “Pada pergantian tahun ini saya akan berubah”. Namun kali ini jelas ada perbedaan karena di sertai Roadmap to… nya. Ada proses!
Hikmah yang bisa saya ambil dari perbandingan rencana perubahan seperti di atas adalah bahwa perubahan itu tidak bisa dilakukan dengan menentukan suatu waktu tertentu dan berharap perubahan radikal atau revolusioner akan tejadi. Ibarat pintu perbatasan suatu Negara, belakang Negara A dan depan Negara B tanpa ada gradasi. Perubahan diri itu, hemat saya, akan terjadi kapanpun tanpa perlu kita tentukan satu tanggal tertentu atau momen tertentu. Perubahan itu akan terjadi manakala kebiasaan kita berubah. Paradigma kita berubah. Dan kefahaman kita akan sesuatu berubah.
***
Tiba-tiba saya terkaget-kaget melihat diri saya sendiri. Ternyata saya sudah berubah! Paling tidak dari saya tidak menulis apa-apa hingga muncul tulisan ini. Alhamdulillah… Inilah jawaban pertanyaan di atas.
Read More..
Labels:
thought,
yang terjadi hari ini
Wednesday, April 22, 2009
Kartini
Kartini. Nama ini sungguh mempunyai daya magis di alam imajinasi setiap orang di negeri ini. Simbol perlawanan terhadap pengekangan atas hak dasar yang di miliki setiap orang. Benak orang akan selalu teringat dengan kumpulan surat pada sahabatnya di Belanda, Stella, yang berisi kegelisahan dan keinginannya untuk merasakan kehidupan dan jaminan kebebasan untuk menentukan pilihan dan berpendidikan yang pada saat itu masih menjadi barang langka bagi kaumnya, perempuan.Nama kartini pun menjadi salah satu referensi pilihan bagi orang tua yang ingin memberikan nama pada anak perempuannya yang baru lahir. Bersaing dengan nama-nama ‘beken’ dari dalam negeri seperti Dewi, Sri, Ratna, Suci. Pun nama-nama impor seperti Laudya, Grace, Rachel, Sylvia, yang jelas pada jaman Kartini dulu sama sekali tidak terpikir oleh orang tua pribumi memberikan nama seperti itu. Bisa di tebak bahwa orang tua itu ingin anak perempuannya memiliki sikap tegas terhadap penindasan di segala aspek kehidupan seperti pendidikan dan social. Malahan lambat laun, konon nama Kartini pun menjadi semakin luas menembus batas-batas gender penamaan. Para orang tua tidak segan juga memberikan nama pada anak laki-lakinya dengan nama itu dengan sedikit modifikasi dan mengalami penyesuaian menjadi Kartono. Ini juga sebenarnya menandakan bahwa secara skala makro, perjuangan Kartini bukan hanya area privat milik perempuan namun lebih pada nilai-nilai universal bagi siapa pun.
Para aktivis perempuan terutama yang berjuang di jalur feminisme akan menjadikan Kartini sebagai ikon perjuangan. Kartini akan menjelma menjadi sosok yang seolah-olah berada di belakang mereka dan terus memberikan energi serta dukungannya.
Itulah sebagaian kebesaran nama Kartini yang dirinya sendiri tidak menginginkan penghormatan dan pengabadian namanya selain kaum perempuan pada masanya dan setelahnya mendapatkan akses pendidikan dan social yang tidak diskriminasi.
Tantangannya sekarang adalah apakan teman-teman kaum perempuan, Kartini-Kartini baru akan tetap memiliki sikap yang sama terhadap pengekangan dan penjajahan budaya. Perempuan sampai saat ini masih dianggap rentan terhadap arus social dan budaya di sekitarnya, meski tentunya tidak sedikit juga yang sebaliknya. Saya hanya menghawatirkan kartini muda kita akan melupakan apa sebenarnya yang diperjuangkan dan di cita-citakan Kartini dulu sehingga harum namanya. Saya takut satu-satunya yang diingit adalah judul buku kumpulan surat yang saya singgung di awal tulisan ini: Habis Gelap terbitlah Terang yang mereka maknai ”Boleh lah jika sekarang kami masih gelap toh nanti akan terang-terang sendiri”, tanpa mengadakan suatu usaha layaknya Kartini. Semoga tidak!
Tangerang, 21 April 2009
Read More..
Tuesday, November 11, 2008
NAZI
Kelemahlembutan Nazi menyapaku hari ini
Agar memaknai hidup lebih bermakna
Tentara-tentara Nazi itu juga
Yang akhirnya menggiringku ke sebuah perjalanan paksa
Ya, memaksaku dengan senang hari
Untuk menjadi pelayanmu menikmati madu,
Madu beraroma angin,
Dan angin beraroma madu
Sebab saat ini maduku sudah terlelap tidur
Setelah dibelai angin beraroma madu
5 Desember 2007
Read More..
Agar memaknai hidup lebih bermakna
Tentara-tentara Nazi itu juga
Yang akhirnya menggiringku ke sebuah perjalanan paksa
Ya, memaksaku dengan senang hari
Untuk menjadi pelayanmu menikmati madu,
Madu beraroma angin,
Dan angin beraroma madu
Sebab saat ini maduku sudah terlelap tidur
Setelah dibelai angin beraroma madu
5 Desember 2007
Read More..
Labels:
puisi-puisian
Saturday, June 21, 2008
Saatnya Mahasiswa Mengambil Langkah Tegas Terhadap Kebijakan Menaikkan Harga BBM
Polemik tentang kebijakan kenaikan BBM yang sejak awal ditentang banyak pihak sebenarnya belum usai. Aksi demo mahasiswa masih acap kali dilakukan sebagai bentuk protes atas keputusan pemerintah ini. Bahkan beberapa mahasiswa dari Jakarta melakukan aksi mogok makan dan jahit mulut untuk menunjukkan pada khalayak, terutama pemerintah, bahwa keputusan ini seharusnya tidak dilakukan di tengah kondisi masyarakat yang semakin terpuruk dan privatisasi besar-besaran BUMN kita. Memang terlihat konyol, tapi aksi itu mengandung arti yang sangat dalam untuk mereka yang benar-benar merasakan efek dari kenaikan harga BBM ini.
Sementara itu media sebagai pemegang akses informasi utama seakan mengalihkan isu ini dengan kejadian tindakan anarkis yang terjadi di Monas yang berujung pada tuntutan pembubaran Ahmadiyah melalui SKB dan kemudian Keppres. Hal ini dapat dilihat dari mayoritas tayangan berita yang ditampilkan adalah peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan hal tersebut. Sementara aksi-aksi penentangan dari beberapa elemen masyarakat seperti mahasiswa dan LSM serta efek yang terjadi di masyarakat seperti keluhan-keluhan harga naik dan semakin langkahnya minyak tanah seakan kurang mendapat tempat di media. Tentu saja ini akan membentuk kebanyakan opini konsumen media menjadi tenang dan seakan-akan masalah BBM sudah usai. Padahal sejatinya adalah tidak. Langkah media ini menurut beberapa pengamat sebenarnya bisa ditebak akan ke arah mana, mengingat orang-orang pemegang kuasa atas media itu masih ada hubungan darah maupun hubungan kepentingan politik dengan pemegang kekuasaan saat ini dalam rangka menyambut event besar di tahun 2009 mendatang.
Sedangkan langkah mahasiswa dengan melakukan aksi-aksi turun ke jalan sebagai bentuk protes juga ditanggapi berbeda di kalangan mahasiswa sendiri. Ada yang mendukung dan ada juga yang apatis. Keapatisan ini banyak didasari atas anggapan bahwa demo tidak akan membuat perubahan yang signifikan terhadap kebijakan yang telah di ambil. Namun perlu dimengerti juga bahwa aksi-aksi ini perlu dilakukan sebagai bentuk aktualisasi kepada khalayak ramai bahwa mahasiswa masih menjalankan fungsinya sebagai pengontrol kebijakan pamerintah secara tidak langsung. Selain langkah-langkah ‘cerdas’ yang juga telah dilakukan dengan memberikan petisi dan peringatan secara formal. Setidaknya itulah yang berusaha dilakukan oleh kawan-kawan kita di Aliansi Mahasiswa Unair Menggugat (AMUM) maupun elemen mahasiswa di Universitas yang lain.
Untuk menghindari gejolah di grass root yang terjadi pasca kenaikan BBM, pemerintah langsung menggelontorkan sejumlah rupiah kepada rakyat miskin yang lebih dikenal dengan bantuan langsung tunai (BLT). Pemerintah melalui menterinya juga menyatakan bahwa saat ini rakyat lebih membutuhkan fresh money sebelum memberikan kompensasi yang lebih realistis untuk kepantingan jangka panjang (Metro TV, Mei 2008). Namun sebagian orang menganggap bahwa langkah ini tidak lebih dari untuk meredam emosi rakyat mengingat langkah ini pernah diterapkan dan terbukti tidak berjalan efektif meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sementara itu untuk para mahasiswa yang terkenal paling keras menyuarakan bentuk penolakan terhadap kenaikan ini dirasa perlu juga untuk diredam yakni dengan menggelontorkan sejumlah rupiah layaknya BLT, namun dengan sebutan lain: bantuan khusus mahasiswa (BKM) berkedok beasiswa ( Fadjoel Rachman, Jawa Pos Mei 2008). Dan tawaran beasiswa itulah yang saat ini benar-benar dihadapi mahasiswa kita.
Beasiswa dengan nama ini tidak pernah direncanakan sebelumnya oleh pemerintah dan tidak ada pos anggaran untuk itu. Namun melihat gejolak yang terjadi di kalangan mahasiswa maka langkah itu dirasa perlu dilakukan untuk meredam aksi yang lebih luas. Lebih Ironis lagi adalah jika kita mengamati bahwa dana untuk BKM ini disinyalir diambilkan dari subsidi BBM yang dikurangi untuk masyarakat (ibid).
Melihat kenyataan diatas, alangkah elok jika kita sebagai mahasiwa perlu langkah tegas untuk memikirkan ulang apakah akan mengambil beasiswa itu atau tidak. Bahkan menolaknya! Bagi mahasiswa yang melakukan aksi turun ke jalan maupun yang mendukungnya, inilah saatnya untuk mempertahankan pendirian kita itu secara lebih jelas bahwa kita tidak akan melakukan aksi pembenaran terhadap kebijakan pemerintah itu dengan menerima BKM. Sementara itu untuk mahasiswa yang menganggap bahwa langkah demo dan mogok makan adalah sebuah langkah non-intelektual yang diambil mahasiswa karena tidak akan menimbulkan efek apa-apa selain kemacetan jalan dan kesia-siaan, inilah saatnya untuk menunjukkan langkah konkrit kita bahwa sebenarnya kita tidak mau tutup mata dan tutup telinga atas dampak kenaikan harga BBM bagi rakyat miskin ini dengan menolak tawaran beasiswa itu. Ataukah sebenarnya kita adalah mahasiswa yang kehilangan idealisme ketika dihadapkan pada realita yang tidak bersahabat seperti ini? Anda sendiri yang bisa menjawabnya.
Read More..
Sementara itu media sebagai pemegang akses informasi utama seakan mengalihkan isu ini dengan kejadian tindakan anarkis yang terjadi di Monas yang berujung pada tuntutan pembubaran Ahmadiyah melalui SKB dan kemudian Keppres. Hal ini dapat dilihat dari mayoritas tayangan berita yang ditampilkan adalah peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan hal tersebut. Sementara aksi-aksi penentangan dari beberapa elemen masyarakat seperti mahasiswa dan LSM serta efek yang terjadi di masyarakat seperti keluhan-keluhan harga naik dan semakin langkahnya minyak tanah seakan kurang mendapat tempat di media. Tentu saja ini akan membentuk kebanyakan opini konsumen media menjadi tenang dan seakan-akan masalah BBM sudah usai. Padahal sejatinya adalah tidak. Langkah media ini menurut beberapa pengamat sebenarnya bisa ditebak akan ke arah mana, mengingat orang-orang pemegang kuasa atas media itu masih ada hubungan darah maupun hubungan kepentingan politik dengan pemegang kekuasaan saat ini dalam rangka menyambut event besar di tahun 2009 mendatang.
Sedangkan langkah mahasiswa dengan melakukan aksi-aksi turun ke jalan sebagai bentuk protes juga ditanggapi berbeda di kalangan mahasiswa sendiri. Ada yang mendukung dan ada juga yang apatis. Keapatisan ini banyak didasari atas anggapan bahwa demo tidak akan membuat perubahan yang signifikan terhadap kebijakan yang telah di ambil. Namun perlu dimengerti juga bahwa aksi-aksi ini perlu dilakukan sebagai bentuk aktualisasi kepada khalayak ramai bahwa mahasiswa masih menjalankan fungsinya sebagai pengontrol kebijakan pamerintah secara tidak langsung. Selain langkah-langkah ‘cerdas’ yang juga telah dilakukan dengan memberikan petisi dan peringatan secara formal. Setidaknya itulah yang berusaha dilakukan oleh kawan-kawan kita di Aliansi Mahasiswa Unair Menggugat (AMUM) maupun elemen mahasiswa di Universitas yang lain.
Untuk menghindari gejolah di grass root yang terjadi pasca kenaikan BBM, pemerintah langsung menggelontorkan sejumlah rupiah kepada rakyat miskin yang lebih dikenal dengan bantuan langsung tunai (BLT). Pemerintah melalui menterinya juga menyatakan bahwa saat ini rakyat lebih membutuhkan fresh money sebelum memberikan kompensasi yang lebih realistis untuk kepantingan jangka panjang (Metro TV, Mei 2008). Namun sebagian orang menganggap bahwa langkah ini tidak lebih dari untuk meredam emosi rakyat mengingat langkah ini pernah diterapkan dan terbukti tidak berjalan efektif meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sementara itu untuk para mahasiswa yang terkenal paling keras menyuarakan bentuk penolakan terhadap kenaikan ini dirasa perlu juga untuk diredam yakni dengan menggelontorkan sejumlah rupiah layaknya BLT, namun dengan sebutan lain: bantuan khusus mahasiswa (BKM) berkedok beasiswa ( Fadjoel Rachman, Jawa Pos Mei 2008). Dan tawaran beasiswa itulah yang saat ini benar-benar dihadapi mahasiswa kita.
Beasiswa dengan nama ini tidak pernah direncanakan sebelumnya oleh pemerintah dan tidak ada pos anggaran untuk itu. Namun melihat gejolak yang terjadi di kalangan mahasiswa maka langkah itu dirasa perlu dilakukan untuk meredam aksi yang lebih luas. Lebih Ironis lagi adalah jika kita mengamati bahwa dana untuk BKM ini disinyalir diambilkan dari subsidi BBM yang dikurangi untuk masyarakat (ibid).
Melihat kenyataan diatas, alangkah elok jika kita sebagai mahasiwa perlu langkah tegas untuk memikirkan ulang apakah akan mengambil beasiswa itu atau tidak. Bahkan menolaknya! Bagi mahasiswa yang melakukan aksi turun ke jalan maupun yang mendukungnya, inilah saatnya untuk mempertahankan pendirian kita itu secara lebih jelas bahwa kita tidak akan melakukan aksi pembenaran terhadap kebijakan pemerintah itu dengan menerima BKM. Sementara itu untuk mahasiswa yang menganggap bahwa langkah demo dan mogok makan adalah sebuah langkah non-intelektual yang diambil mahasiswa karena tidak akan menimbulkan efek apa-apa selain kemacetan jalan dan kesia-siaan, inilah saatnya untuk menunjukkan langkah konkrit kita bahwa sebenarnya kita tidak mau tutup mata dan tutup telinga atas dampak kenaikan harga BBM bagi rakyat miskin ini dengan menolak tawaran beasiswa itu. Ataukah sebenarnya kita adalah mahasiswa yang kehilangan idealisme ketika dihadapkan pada realita yang tidak bersahabat seperti ini? Anda sendiri yang bisa menjawabnya.
Read More..
Wednesday, February 6, 2008
Kau Rindu Apa?
Karena...
Kali ini aku rindu aroma cat minyak
Yang biasa dipakai pelukis menggoreskan hidupnya
Kali ini aku rindu aroma hujan
Yang tidak pernah bisa dirasakan penghuni apertemen
Kali ini aku rindu gunung
Yang tidak bisa dirasakan anak-anak manja
Kali ini aku rindu sungai
Tapi bukan kali ciliwung dan teman-teman sejenisnya
Kali ini aku rindu suara gemercik air
Yang dibuat duplikatnya oleh orang beruang di tengah ruang
Kali ini aku rindu suara gending
Yang mulai punah karena snar drum
Kali ini aku rindu roti sumbu
Yang terabaikan karena roti garpu lebih diminati
Kali ini aku rindu tempe
Yang mulai langkah di negeri ini...
Surabaya, Desember 2007
Read More..
Kali ini aku rindu aroma cat minyak
Yang biasa dipakai pelukis menggoreskan hidupnya
Kali ini aku rindu aroma hujan
Yang tidak pernah bisa dirasakan penghuni apertemen
Kali ini aku rindu gunung
Yang tidak bisa dirasakan anak-anak manja
Kali ini aku rindu sungai
Tapi bukan kali ciliwung dan teman-teman sejenisnya
Kali ini aku rindu suara gemercik air
Yang dibuat duplikatnya oleh orang beruang di tengah ruang
Kali ini aku rindu suara gending
Yang mulai punah karena snar drum
Kali ini aku rindu roti sumbu
Yang terabaikan karena roti garpu lebih diminati
Kali ini aku rindu tempe
Yang mulai langkah di negeri ini...
Surabaya, Desember 2007
Read More..
Labels:
puisi-puisian
Monday, January 28, 2008
Senioritas!
Pertama menemukan tulisan ini secara tidak sengaja dan membacanya, terus terang Dalang sempat kaget. Bukan kaget lantaran isi tulisannya, tapi kaget ”Ternyata ada juga yang berani ngomong ke publik”.
Sebelumnya, pengakuan yang kurang lebih sama dengan isi tulisan itu muncul dari teman-teman dalang yang juga kuliah di kampus itu. Mereka mengatakan bahwa pengkaderan (baca: ospek) yang dilakukan oleh para seniornya sudah keluar dari batas kewajaran. Mereka cerita bahwa sebenarnya dari pihak rektorat waktu penerimaan mahasiswa secara resmi oleh kampus dan juga didepan wali murid para mahasiswa baru mengatakan bahwa dalam proses pengkaderan nanti tidak diperbolehkan adanya kekerasan fisik atau apapun yang berkaitan dengan penyiksaan fisik secara berlebihan. Namun,
statement ini rasanya dilupakan oleh para senior dari jurusan masing-masing. Perlakuan yang berlawanan dengan statement rektorat itupun masih saja muncul dan terus dilakukan, yang katanya perlakuan itu adalah bagian dari tradisi kampus.
Kejadian seperti ini barangkali bukanlah barang baru di lembaga pendidikan kita. Masih cukup segar dalam ingatan kita tentang kekerasan berkedok pendidikan di kampus pencetak pamong, STPDN. Perlakuan-perlakuan yang bisa dikatakan biadab itu dilakukan oleh mahasiswa senior kepada mahasiswa junior atau mahasiswa baru. Di kampus yang ada dalam tulisan inipun mungkin belum separah dan seekstrem seperti di kampus STPDN, tapi Dalang yakin, perlakuan tidak manusiawi seperti itu pasti diawali oleh tindakan tindakan biadab yang ringan terlebih dahulu. Namun karena tidak adanya pwngawasan dan kontrol dari pihak yang berwenang di kampus, frekuansi dan kualitas kebiadabannya pasti akan terus bertambah. Dan itulah yang dirasakan oleh mahasiswa baru saat ini di kampus itu.
Ketika Dalang tanyakan apakan tidak ada yang berani vokal dan melaporkan ke pihak rektorat? Teman saya yang juga junior di kampus itu mengatakan bahwa hal itu sudah pernah dilakukan. Tapi bukannya ada evaluasi dan penurunan kualitas perlakuan yang sewenang-wenang dan tidak mendidik, namun malah semakin menggila dan kemarahan senior semakin menjadi karena merasa perlakuannya sudah dilaporkan kepada pihak ’luar’.
Dulu sempat mau nulis tentang perkara ini, tapi karena tidak ada bukti yang bisa Dalang sajika pada pembaca, maka pikiran itu hanya sebatas dalam isi otak. Meskipun beberapa kali Dalang sempat berkeliling di kampus itu dan menyaksikan sendiri perlakuan Senior pada Juniornya. Namun setelah yang menjadi ’korban’ akhirnya ada yang berani ngomong ke publik. Akhirnya muncul juga tulisan ini.
Selahkan baca sendiri tulisan korban. Kalau anda gatal untuk memberikan komentar, sampaikan saja sebagai bentuk bahwa kita menolak adanya tindakan sewenang-wenang yang mengatasnamakan pendidikan.
Read More..
Kejadian seperti ini barangkali bukanlah barang baru di lembaga pendidikan kita. Masih cukup segar dalam ingatan kita tentang kekerasan berkedok pendidikan di kampus pencetak pamong, STPDN. Perlakuan-perlakuan yang bisa dikatakan biadab itu dilakukan oleh mahasiswa senior kepada mahasiswa junior atau mahasiswa baru. Di kampus yang ada dalam tulisan inipun mungkin belum separah dan seekstrem seperti di kampus STPDN, tapi Dalang yakin, perlakuan tidak manusiawi seperti itu pasti diawali oleh tindakan tindakan biadab yang ringan terlebih dahulu. Namun karena tidak adanya pwngawasan dan kontrol dari pihak yang berwenang di kampus, frekuansi dan kualitas kebiadabannya pasti akan terus bertambah. Dan itulah yang dirasakan oleh mahasiswa baru saat ini di kampus itu.
Ketika Dalang tanyakan apakan tidak ada yang berani vokal dan melaporkan ke pihak rektorat? Teman saya yang juga junior di kampus itu mengatakan bahwa hal itu sudah pernah dilakukan. Tapi bukannya ada evaluasi dan penurunan kualitas perlakuan yang sewenang-wenang dan tidak mendidik, namun malah semakin menggila dan kemarahan senior semakin menjadi karena merasa perlakuannya sudah dilaporkan kepada pihak ’luar’.
Dulu sempat mau nulis tentang perkara ini, tapi karena tidak ada bukti yang bisa Dalang sajika pada pembaca, maka pikiran itu hanya sebatas dalam isi otak. Meskipun beberapa kali Dalang sempat berkeliling di kampus itu dan menyaksikan sendiri perlakuan Senior pada Juniornya. Namun setelah yang menjadi ’korban’ akhirnya ada yang berani ngomong ke publik. Akhirnya muncul juga tulisan ini.
Selahkan baca sendiri tulisan korban. Kalau anda gatal untuk memberikan komentar, sampaikan saja sebagai bentuk bahwa kita menolak adanya tindakan sewenang-wenang yang mengatasnamakan pendidikan.
Labels:
yang terjadi hari ini
Subscribe to:
Posts (Atom)




